Lihat, Baca, Nikmati, Muntahkan

Senin, 18 Maret 2013

aku berkata pada hidup


aku berkata pada hidup
pada arahnya yang tak pernah jelas
pada torehan tawa yang dibawanya
pada tangis cerita getirnya
pada setiap mimpi-mimpi manis yang dijanjikannya
pada perihnya kenyataan
pada bosannya kegamangan
pada lelahnya ketidak jelasan
dan pada sunyinya terasing sendirian
atas diri ini
atas aku ini

tanya..
aku terus bertanya
dan diam
tetap diam adalah jawabannya
diam
tak sepatah katapun
tak sedikit petunjukpun

seakan absurd
tergolek menajdi tubuh mati yang hidup
terus tak ber arah
aku seakan lelah bertanya
seakan bosen berpikir
semua ini akan berujung kemana
akankah berakhir

aku cuma tak benar benar mengerti
itu saja.................

kesepian


mungkin sudah puluhan tanya aku utarakan
jutaan rasa sendirian terus kurasakan
berkali - kali berungkali
leleh dan letih menjadi topik perbincangan diriku
dengan diriku sendiri
yang jelas aku benar - benar kesepian
benar - benar butuh teman
kekasih
sahabat
mungkin keduanya
aku sudah terlalu bosan dengandiam
terus berdiskusi dengan isi kepala sendiri
terus berdebat dengan hasrat sendiri
aku benar kesepian
aku kesepian
sepi
sendiri
kesepian

keberadaan tiada


perlukah terus bertanya
ketika seberkah jawaban pun tak pernah hadir
perlukah terus berlari
ketika tujuan tuk dicapai tak pernah ada
perlukah tuk terus sembunyi
ketika hidup ini telah jadi momok
apa yang perlu di khawatirkan
apa yang perlu dirisaukan
hidup ini kah?
perut ini kah?
atau kesenangan ini kah?

pernakah kau mendengar kawan sebuah nyayian
nyayian tentang ketidak beradaan
merubah bentuk yang nyata menjadi baur
menegaskan bahwa semua ini hanyalah konsep ketiadaan
hingga akhirnya akan kembali menjadi hilang

tak perlu risau kawan
tak perlu gundah dengan kenyataan itu
nikmatilah semua ini
perlahan dengan pasti
kita akan kembali ke alam
melebur bersama hening
menjeput sesuatu yang agung
lebih dari konsep
lebih dari ralitas
kita abadi di sana kawan

memori, harapan, cerita


Ekstasi terpendam
hidupkan sebah kenangan
sebuah fakum terpendam
gesekan waktu
tenggelam kedalam satu sudut
sisi terburuk dari otak
hidup kenangan itu
tak terjalin dengan baik
antara kenyataan
dan terus menjadi sebuah wujud khayalan

kau terus berlari
aku tertinggal ditepian kosong
kering ronta
berharap tuk segera diberi mati

sudut ronta ini
mengharap subah pengharapan
aku tak hadir dalam sisi pelik sebauh tanya
aku datang dalam hitam
nyata dan membunuh
aku terjebak dari sangkar realitas
berharap tuk mendapat
sebuah lampu penerang
guratan cinta kecil
tuk dijadikan kompas
buatku tuk berjalan
kembali........