seperti biasa,
layaknya hari berganti,
layaknya malam tenggelam,
hening bergati bingar,
bingar termakan isolasi hening,
deretan jarum jam,
detakan pacu waktu,
dan degupan ardenalin memacu jantung.
belum beranjak sedari kemarin
pria tua berseragam lusuh,
hijau yang tak nampak lagi di sebut warna
lecek dekil dan menghitam
abdikan diri untuk perut anak istri
bergulat dengan malam
penjarakan siang dengan kelam
ketika ku sapa dirinya
"kumaha kabarna mang jaka"
masih dalam kesantunan yang sama
ku jumpai sewaktu ku kecil dulu
30 tahun mengabdi menjadi hansip
tatap setia
walau tenaga tak lagi sama
termakan waktu
namun tak berganti nasib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar